SRI SULTAN HAMENGKU BAWONO X Bertahta 7 Maret 1989
Terlahir dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito pada tanggal 2 April 1946 di Yogyakarta, kemudian menghabiskan sepanjang hidupnya di kota yang ia cintai, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 tumbuh menjadi pribadi yang sangat dekat dengan kota dan rakyatnya. Setelah dewasa beliau ditunjuk oleh ayahandanya sebagai Pangeran Lurah atau yang dituakan diantara semua pangeran di Keraton Yogyakarta. Mas Jun, begitu beliau biasa disapa pada saat muda, kemudian diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi.
SEJARAH- BUDAYA
PRAJA RIAU
7/1/20265 min read


SRI SULTAN HAMENGKU BAWONO X Bertahta 7 Maret 1989
Terlahir dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito pada tanggal 2 April 1946 di Yogyakarta, kemudian menghabiskan sepanjang hidupnya di kota yang ia cintai, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 tumbuh menjadi pribadi yang sangat dekat dengan kota dan rakyatnya. Setelah dewasa beliau ditunjuk oleh ayahandanya sebagai Pangeran Lurah atau yang dituakan diantara semua pangeran di Keraton Yogyakarta. Mas Jun, begitu beliau biasa disapa pada saat muda, kemudian diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi.
Sebelum bertakhta sebagai Sultan Yogyakarta, KGPH Mangkubumi sudah terbiasa dengan pelbagai urusan di pemerintahan. Beliau sering diminta membantu tugas-tugas ayahandanya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Selain itu, KGPH Mangkubumi sendiri juga aktif di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Beberapa jabatan yang pernah beliau emban diantaranya sebagai Ketua Umum Kadinda DIY, Ketua DPD Golkar DIY, Ketua KONI DIY dan Presiden Komisaris PG Madukismo.
Pada tanggal 2 Oktober 1988 Sri Sultan Hamengku Buwono IX wafat. KGPH Mangkubumi kemudian menjadi calon paling tepat untuk menjadi Sultan berikutnya. Proses suksesi ini menjadi hal yang baru dalam sejarah Keraton Yogyakarta. Pada era sebelumnya, setiap Sultan yang akan dilantik harus mendapat persetujuan dari Belanda.
Sesaat sebelum dinobatkan, KGPH Mangkubumi mendapat gelar Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram yang bermakna sebagai putera mahkota. Setelah itu, baru kemudian secara sah beliau dinobatkan sebagai Sultan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tanggal 7 Maret 1989 atau Hari Selasa Wage, tanggal 29 Rajab 1921 berdasarkan penanggalan Tahun Jawa.
Sri Sultan Hamengku Bawono X adalah Raja Kesultanan Yogyakarta ke-10 yang bertakhta sejak 7 Maret 1989, sekaligus menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) aktif. Sebagai kepala daerah, posisi beliau ditetapkan langsung tanpa pemilihan umum berdasarkan Undang-Undang Keistimewaan DIY Nomor 13 Tahun 2012.
1. Biodata Pribadi
Nama Lahir: Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito
Tempat, Tanggal Lahir: Yogyakarta, 2 April 1946
Gelar Cilik/Muda: Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi
Gelar Takhta: Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Ka 10, Suryaning Mataram, Senopati Ing Ngalogo, Langgenging Bawono Langgeng, Khalifatullah
Ayah: Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Ibu: KRAy. Windyaningrum
Agama: Islam
2. Riwayat Pendidikan
Sekolah Dasar: SD Keputran I Yogyakarta
Sekolah Menengah Pertama: SLTP Negeri 3 Yogyakarta
Sekolah Menengah Atas: SLTA Negeri 6 Yogyakarta
Perguruan Tinggi: Sarjana Hukum (SH) Jurusan Ketatanegaraan, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (Lulus 1982)
3. Silsilah & Keluarga
Sultan HB X dikenal sebagai raja Jawa modern yang memutus tradisi poligami dan memilih untuk hanya memiliki satu pasangan hidup.
Permaisuri: Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas
Anak-Anak (Lima Putri):
GKR Mangkubumi (Putri Mahkota)
GKR Condrokirono
GKR Maduretno
GKR Hayu
GKR Bendara
4. Karier Politik & Pemerintahan
Masa Muda: Sering membantu tugas pemerintahan ayahnya yang menjabat sebagai Wakil Presiden RI.
Gubernur DIY: Menjabat sejak 3 Oktober 1998 menggantikan Sri Paduka Paku Alam VIII.
Kiprah Partai: Pernah aktif sebagai Anggota Dewan Penasihat Golkar, namun mundur pasca-UU Keistimewaan 2012 demi menjaga netralitas.
Gelar Kehormatan: Menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta atas kontribusinya dalam pelestarian seni dan budaya
5. Sabda Tama & Sabda Raja (Perubahan Gelar)
Selama masa bertakhtanya, Sultan mengeluarkan maklumat penting yang mengubah beberapa tatanan adat di Keraton Yogyakarta:
Sabda Tama (6 Maret 2015): Menegaskan posisi tawar Keraton dalam NKRI, sekaligus melarang pihak luar (termasuk pejabat pemerintah) mencampuri urusan tatanan adat dan penentuan takhta di Mataram.
Sabda Raja (30 April 2015): Mengubah nama gelar resmi beliau dari Hamengku Buwono (artinya bumi) menjadi Hamengku Bawono (artinya alam semesta/jagad raya).
Penghapusan Kalifatullah: Menghilangkan frasa Sayidin Panatagama Khalifatullah dari rangkaian gelarnya. Langkah ini membuka jalan kesetaraan gender karena gelar tersebut sebelumnya melekat khusus untuk pemimpin laki-laki.
6. Kebijakan "Jogja Cyber Province"
Sebagai kepala daerah yang bervisi modern, Sultan menginisiasi program Jogja Cyber Province untuk mentransformasi Yogyakarta menjadi provinsi berbasis digital.
Siber Inklusif: Mengembangkan ekosistem digital yang menyentuh sektor pelayanan publik, pendidikan melalui Jogja Belajar, hingga tata kelola pemerintahan yang transparan.
Digitalisasi Budaya: Mengarsipkan naskah kuno Keraton ke dalam bentuk digital agar dapat diakses oleh peneliti dunia.
Keamanan Siber: Mendorong peningkatan kapasitas teknologi lokal, termasuk mengusulkan pelatihan aspek cyber security bagi sektor pengamanan industri.
Filosofi Modern: Beliau menekankan bahwa kemajuan digital di DIY harus tetap berdiri di atas fondasi budaya luhur Jawa, khususnya prinsip Hamemayu Hayuning Bawana (menjaga kelestarian alam dan keserasian hidup).
7. Sejarah & Polemik Suksesi Takhta (Putri Mahkota)
Isi suksesi di Keraton Yogyakarta menjadi perhatian nasional karena Sultan HB X hanya memiliki lima orang anak yang semuanya perempuan. Sepanjang sejarah dinasti Mataram Islam, takhta selalu diwariskan kepada garis keturunan laki-laki.
Dhawuh Raja (Mei 2015): Sultan menetapkan putri sulungnya, GKR Pembayun, dengan gelar baru sebagai GKR Mangkubumi.
Makna Gelar: Nama Mangkubumi merupakan gelar tradisional yang secara historis dipersiapkan bagi calon penerus takhta atau Putri Mahkota.
Resistensi Internal: Kebijakan ini memicu konflik internal dan penolakan dari sebagian saudara kandung Sultan (para pangeran). Mereka menilai pengangkatan perempuan sebagai penerus takhta tidak sesuai dengan hukum adat (paugeran) keraton yang tidak tertulis.
Sikap Sultan: Sultan menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan perintah spiritual langsung dari para leluhur Mataram demi keberlangsungan takhta di masa depan.
8. Aset Kebudayaan Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta bukan sekadar istana tempat tinggal raja, melainkan pusat kebudayaan Jawa yang menyimpan kekayaan berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible).
A. Kompleks Arsitektur & Filosofi Tata Ruang
Sumbu Filosofis Yogyakarta: Garis imajiner yang membentang lurus dari Gunung Merapi, Tugu Pal Putih, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, hingga Laut Selatan. Tata ruang ini melambangkan perjalanan hidup manusia menuju Sang Pencipta (Sangkan Paraning Dumadi).
Warisan Dunia UNESCO: Sumbu Filosofis Yogyakarta telah resmi diakui dan ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.
Tata Bangunan Istana: Terdiri dari 7 pelataran utama (seperti Alun-Alun, Pagelaran, Sitihinggil, hingga Kedhaton). Setiap bangunan menggunakan arsitektur tradisional Jawa dengan ornamen penuh makna spiritual dan politik.
B. Pusaka & Kereta Kencana (Kagungan Dalem)
Senjata Pusaka: Keraton menyimpan ratusan keris, tombak, dan bendera pusaka yang dianggap keramat. Pusaka utama meliputi Kyai Kanjeng Ageng Pleret (tombak) dan Kyai Joko Piturun (keris lambang suksesi takhta).
Kereta Kencana: Koleksi puluhan kereta berkuda bersejarah yang dirawat di Museum Kereta Kraton. Beberapa yang paling terkenal adalah Kereta Kyai Garuda Yaksa (kereta kebesaran raja buatan Belanda) dan Kereta Kanjeng Nyai Jimat.
Jamasan Pusaka: Tradisi pencucian benda-benda pusaka dan kereta kencana ini rutin digelar setiap bulan Suro dalam kalender Jawa.
C. Karya Seni Pertunjukan & Sastra
Tari Klasik Gagrak Ngayogyakarta: Seni tari keraton yang sangat disiplin dan bernilai filosofis tinggi. Contohnya adalah Tari Bedhaya Semang (sakral) dan Tari Lawung Ageng (tari prajurit ciptaan Sultan HB I).
Gamelan Pusaka: Keraton memiliki puluhan set gamelan antik dengan fungsi berbeda. Di antaranya adalah Gamelan Sekati (Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga) yang hanya ditabuh setahun sekali saat perayaan Sekaten.
Manuskrip Kuno (Naskah Serat): Ribuan manuskrip yang memuat sejarah, sastra, ramalan, dan tuntunan hidup (seperti Serat Jayalengkara atau Babad Kraton). Di bawah Sultan HB X, naskah-naskah ini giat didigitalisasi agar tidak rusak dan bisa dipelajari secara global.
D. Tradisi Kebudayaan & Upacara Adat
Hajad Dalem Sekaten: Perayaan tahunan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang memadukan dakwah Islam dengan syiar kebudayaan Jawa melalui pasar malam dan pembagian gunungan.
Grebeg (Syawal, Besar, Maulud): Upacara sedekah raja kepada rakyatnya dalam bentuk Gunungan (tumpukan hasil bumi). Ribuan warga akan berkumpul di Masjid Gedhe Kauman untuk berebut gunungan yang dipercaya membawa berkah.
Labuhan: Upacara melarung persembahan (baju bekas raja, potongan kuku, rambut) ke tempat-tempat sakral seperti Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu sebagai simbol menjaga keseimbangan alam.
Sumber Berita : Tepas Tandha Yekti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.(kratonjogja.id)
Kontak Media:
Media Center Perkumpulan Brayat Ageng Jogjakarta Riau
